Bab I
Pandu baru saja pulang dari kampunya. Harusnya
dia sudah merasa lega. Karena hari ini adalah hari terakhir Orientasi Mahasiswa
Baru. Yang merupakan salah satu momok menakutkan bagi mahasiswa. Hampir tengah
malam akhirnya dia pulang kerumah. Tinggal di kawasan yang agak sepi, tak
membuatnya takut saat pulang sendirian. Setelah lulus dari SMA, Pandu sudah
tinggal sendiri di rumah yang ditinggal oleh orang tuanya. Kedua orang tuanya
memilih untuk hidup di pedesaan yang jauh dari hiruk-pikuk kehidupkan kota. Setelah
sukses dengan bisnins keluarga, mereka berencana langsung menyerahkan
perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman itu kepada anak tunggal
mereka.
Pandu melihat sekelilingnya. Ada yang aneh,
rumah Pak Candra yang hanya beberapa rumah dari rumahnya itu, terlihat sangat
sepi. Bahkan, tak ada lampu yang menyala. Sangat aneh menurutnya. Yang dia tau
dari keluarga Pak Candra adalah, mereka juga merupakan pengusaha yang sangat
kaya. Bergerak di bidang kontraktor. Sering kali kontraktor memenangkan tender
pemerintah. Mereka memiliki gadis yang masih duduk di kelas 2 SMA. Pandu tidak
terlalu mengenal gadis itu. Bahkan, tidak tahu namanya.
Pandu mencoba mengabaikan hal yang yang
dilihatnya. Mungkin mereka sekeluarga sedang liburan. Dan para penjaga juga
sedang liburan. Mungkin saja. Sebenarnya, Pandu juga tidak terlalu ingin peduli
dengan kehidupan orang lain. Meski dia tahu kalau keluarga Pak Candra bukanlah
keluarga yang sombong seperti beberapa rekan-rekan bisnis ayahnya yang lain.
Sekilas, pandu melihat ada beberapa orang yang
berjalan dalam kegelapan dan masuk ke dalam rumah besar kediaman keluarga
Candra. Pandu lebih suka berpikir positif. Mungkin itu adalah penjaga yang baru
saja kembali dari liburan.
Pandu akhirnya sadar, keingintahuannya
membuatnya lupa kalau dia harus beristirahat. Setelah membuka pagar rumahnya,
Pandu memasukkan motor ke dalam garasi. Sebenarnya, ada mobil di garasi itu. Tapi,
Pandu lebih suka menggunakan motornya. Teman kuliahnya kebanyakan adalah kawan
baru yang belum dikenalnya. Tidak enak kesannya jika dia datang dengan mobil
mewah. Lebih baik dengan motor yang biasa saja.
Pandu masih belum ingin tidur. Sebenarnya, dia
lebih suka untuk tinggal sendirian. Tinggal bersama orang lain hanya akan
membuatnya merasa kurang nyaman. Jika tidak terpaksa, dia tidak mau untuk
tinggal dengan orang lain. Bahkan, pelayan dan pembantunya saja dimintanya
untuk ikut orangtuanya ke desa. Dia takut kalau orang tuanya tidak terbiasa
dengan kehidupan desa.
Baru saja Pandu merebahkan tubuhnya diatas
sofa, terdengar suara ledakan besar. Sepertinya berasal dari rumah Pak Candra.
Spontan pandu langsung berlari ke lantai dua untuk melihat apa yang terjadi. Benar
saja dugaanya. Rumah besar, atau bisa dikatakan mansion itu hancur seketika. Orang-orang
berhamburan keluar untuk melihat apa yang terjadi. Pandu pun langsung turun
untuk melihat langsung yang terjadi barusan. Ini memang bukan hal yang biasa
terjadi di lingkungan ini. Semua orang merasa tidak pernah memusuhi keluarga
Pak Candra. Tapi, apa yang terjadi, ini sunggu diluar dugaan.
Pandu langsung berlari menuju sumber ledakan. Beberapa
reporter yang kebetulan bertugas, sedang meliput berita langsung perihal
ledakan yang terjadi. Pandu sepertinya tak peduli dengan apapun. Dia langsung
saja menerobos kerumunan banyak orang.
“Pandu! Apa yang kau lakukan?” Teriak
seseorang di belakangnya. Dia sangat mengenal suara itu.
“Aku harus memastikan apa yang terjadi, Fan.”
Katanya sambil terus berlari mendekati puing-puing bangunan.
Pandu menyalakan senter dari smartphone-nya
untuk menerangi apa yang dilihatnya. Semuanya benar-benar hancur. Aku harus
mencari dimana Pak Candra. Pikirnya.
Dia cukup mengenal rumah itu. Dulu, Pandu dan
keluarganya sering berkunjung ke rumah Pak Candra untuk masalah Bisnis. Dan,
Pandu tahu benar kalau Pak Candralah yang memberikan modal kepada ayahnya untuk
membuat usaha. Itu salah satu sebab kenapa Pandu sedikit peduli dengan keluarga
Pak Chandra. Pandu berhati-hati dalam mencari.
“Pandu! Sebelah sini!” Ternyata, Irfan ikut
mencari. Tapi, ditempat yang berbeda dengan Pandu.
Pandu segera berlari kencang ke tempat Irfan. “Kenapa
kau berada disini?” Tanya Pandu.
Irfan mengabaikan hal itu. Dia langsung
jongkok dan menarik beberapa puing bangunan. Bu Candra terlihat tewas dengan
mata terbuka. Sepertinya karena benturan hebat. Beruntung jasadnya masih utuh. Sepertinya,
Bu Candra melihat pelakunya. Terlihat dari ekspresi wajahnya yang terkejut.
Pandu menutupkan mata Bu Candraa, kemudian mencoba memperkirakan dimana Pak
Candra. Setelah menebak-nebak posisi, mereka berhasil menemkan dimana Pak
Candra.
Beberapa orang yang mengelilingin bangunan
itu, tidak berani masuk. Takut jika nanti polisi darang dan mengintrogasi
mereka. Mereka lebih memilih mencari jalan aman.
Mereka menemukan Pak Candra terbaring tidak
berdaya. Tapi, beruntungnya masih bernafas. Hanya kepalanya saja yang terlihat.
Sebagian besar tubuhnya sudah tertimpa puing-puing bangunan. Hanya tangan
kanannya yang bisa bergerak bebas. Melambai-lambai memberikan tanda pada siapa
saja yang terlihat olehnya.
“Pak Can, Biar kami singkirkan dulu
puing-puing yang menimpa Bapak.” Pandu segera akan bangkit setelah memastikan
keadaan Pak Candra.
Pak Candra menarik tangan Pandu. “Sudah tidak
ada harapan. Aku sudah tidak merasakan anggota tubuhku yang lain.” Katanya
terbata-bata.
“Tapi, Pak...” Pandu berusaha meyakinkan agar
Pak Candra mau bertahan sebentar lagi.
“Sudahlah, tak ada gunanya juga jika aku harus
hidup dengan satu tangan saja. Aku memang sudah tidak bisa bertahan lagi.
Sekarang aku mohon, cari Karin. Dia ada di kamarnya. Atau mungkin di dapur.”
Kemudian, Pak Candra terbatuk beberapa kali. Terlihat dia memang sudah tidak
tahan lagi. Seakan dia mengetahui ajalnya. Malaikat maut seolah sedang
melihatnya. Dan hanya tinggal menarik nyawanya saja.
“Jangan biccara dulu, Pak Can! Kami akan
mengeluarkan Bapak dari tempat ini. Bertahanlah!” Pandu memberikan Isyarat pada
Irfan untuk segera menyingkirkan puing-puing yang ada. Irfan malah
menggelengkan kepalanya. Menandakan, hal itu mustahil untuk dilakukan.
Sial! Umpat Pandu dalam hatinya. “Aku mohon, setidaknya biarkan aku berusaha
melakukannya.” Katanya lagi. Tak tahu kepada siapa Pandu berbicara.
“Tolong! Mama, Papa! Tolong Karin! Bibi Mega,
Paman Wira! Karin kehabisan Nafas!” Suara itu terdengar kemudian diikuti batuk
berkali-kali.
“Itu karin. Tolong selamatkan dia!” Pinta Pak
Candra. “Untunglah, dia masih selamat.”
“Irfan, tolong jaga Pak Can sebentar. Aku akan
mencari Karin.” Pandu mantap dan langsung bangkit.
“Bapak bertahanlah, paling tidak, sebentar
lagi bantuan akan segera datang.” Irfan berusaha membuat keadaan setenang
mungkin.
Pandu menemukan sumber suara. Beberapa
puing-puing besar berhasil disingkirkannya. Beruntung, Karin berada dekat tiang
yang sangat kokoh. Puing-puing itu hanya menutupi dirinya. Tidak menyentuhnya
sama sekali.
“Karin! Bertahanlah!” Pandu masih terus
berusaha menyingkirkan puing-puing dengan hati-hati. Dia mengigit Smartphonenya
agar dia bisa melihat sambil menyingkirkan puing-puing yang menutupi karin.
Tak berapa lama kemudian, Pandu berhasil
mengeluarkan Karin. Dia langsung menggiring Karin ke tempat Pak Candra. Tanpa
ragu, Pandu langsung menarik tangan Karin dan berlari. Sambil melihat
kesana-kamri. Untuk memastikan mereka tidak berjalan kearah yang salah. Irfan
masih mendengarkan beberapa hal yang diceritakan Pak Candra.
“Papa...” Karin langsung menangis
sejadi-jadinya. Melihat ayahnya yang sudah mulai kehabisan tenaga. Bahkan sudah
kesulitan untuk bernafas.
Terdengar suara sirine polisi berdering. Juga ada
suara ambulan. “Pandu, kita harus pergi sekarang.” Irfan gugup dalam keadaan
seperti ini.
“Kau saja yang pergi, Fan. Aku tetap disini.
Buat mereka hanya mendapatkan cerita dari aku saja.”
“Baiklah, aku mengerti.” Irfan langsung pergi.
Sementara Karin masih terduduk memeluk
ayahnya. Sementara Pak Candra terus mengelus-elus kepala karin dengan lembut.
Pak Candra sepertinya sudah mencapai batasnya. Dengan sangat pelan, Pak Candara
meminta Pandu untuk menjaga Karin. Pandu hanya mampu mengangguk. Dia masih bisa
membendung kesedihannya. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan. Tangisan Karin
semakin menjadi-jadi saat tangan Pak Candra tak lagi mengelus kepalanya.
Pak Candra akhirnya menghembuskan nafas
terakhirnya. Dia masih bisa bertahan hanya untuk menunjukkan kalau dia masih
sangat mencitai putri satu-satunya. Pandu hanya bisa duduk menatap langit malam
yang mendung. Gerimis turun bersamaan dengan datangnya para polisi ke tempat
mereka.