Tragedi yang terjadi di Paris, berhasil mencuri perhatian dunia.
Facebook segera mengeluarkan fitur terbarunya. Menempelkan bendera Prancis di photo
profile masing-masing pengguna. Tidak sedikit orang yang mengganti PP
mereka. Walaupun tetap ada yang tidak mengganti PP-nya dengan alasan tertentu.
“Tragedi yang terjadi di Prancis, itu setiap hari terjadi di
Palestina dan Syiria. Kenapa kita harus berduka untuk mereka?” Subhan
menggerutu saat melihat rata-rata teman di facebook-nya mengganti PP mereka.
“Yakin itu terjadi setiap hari? Kau tahu dari mana?” Jefri dengan
tenang bertanya.
Beberapa detik kemudian, Jefri membuka bungkus rokok barunya, dan
mulai membakarnya. Asap yang mengepul itu kemudian berbaur bersama udara.
Hilang entah kemana. Subhan juga membakar rokoknya.
“Beritanya pasti ditutupi sama mereka. Aku yakin sekali, mereka
pasti sedang mempermainkan umat Islam di dunia. Peristiwa di Prancis, itu hanya
sebagai pengalihan atas yang terjadi di Syiria.” Kali ini, Subhan sedikit
berteriak.
Jefri hanya tersenyum mendengar perkataan Subhan. Jelas sekali
Subhan berbicara dengan perasaan. Bukan data yang bisa dipertanggung jawabkan.
Jefri mengambil minuman yang ada didepannya, kemudian meneguknya dengan sangat
lega.
“Minumlah, kita tidak perlu bertegang urat hanya untuk masalah
ini.” Jefri menuangkan minuman untuk Subhan. “Sekarang begini saja, Bhan, apa
yang kau ketahui tentang Prancis?”
“Salah satu negara di Asia Barat...” Subhan terdiam sebentar.
“Maksudku, Eropa Barat. Dengan Paris sebagai ibukota negara. Paris, juga
dikenal sebagai kota mode. Pernah menjuarai piala dunia tahun 1998.” Subhan
menjawab hampir keseluruhannya.
“Sudah cukup?” Tanya Jefri. Subhan hanya mengangguk. “Kau
melewatkan satu hal yang cukup penting.”
Subhan heran. Apa hal penting lain yang dilwatkannya. “Apa itu?”
Subhan meneguk teh manis hangat untuk menutupi kebingungannya.
“Prancis, satu dari 10 negara Eropa yang pertumbuhan agama Islam di
dalamnya cukup pesat. Dan kau juga harus tahu, Prancis juga merupakan negara
pemenang Perang Dunia II. Dia negara yang memiliki Hak Veto. Prancis merupakan
negara berpengaruh. Dan sekarang, perkembangan Islam di Prancis, cukup Pesat.”
“Lalu kenapa?” Subhan sebenarnya sudah mengerti. Tapi, dia tidak
fokus dengan kalimat terakhir Jefri.
Dengan tenang, Jefri menarik rokoknya. Beberapa bulatan dari asap
muncul dari mulutnya. Tanda bahwa Jeri sedang berpikir keras untuk mencari
beberapa hal yang dilewatkannya lagi. “Maksud aku, aksi teror yang terjadi,
tidak serta merta berhubungan dengan masalah agama. Bisa saja ini adalah
masalah politik dan kekuasaan. Memang kau pikir tujuan ISIS itu apa?”
“Sudah jelas tujuan mereka adalah persatuan umat Islam seluruh
dunia.” Jawab Subhan refleks.
“Dibawah pimpinan siapa?” Jefri memastikan.
Subhan terdiam. Sudah pasti dibawah pimpinan kelompok ISIS itu
sendiri. Pikirannya menjadi kacau. Mencari alasan kesana-kemari. Mencari-cari
pembenaran yang akan terbesit di kepalanya. Jefri memang sangat berhati-hati
dalam berbicara. Dia selalu memancing lawannya dulu yang mengungkapkan apa yang
diketahui. Barulah dia mengeluarkan hal-hal yang terlewat. Harus diakuinya,
Jefri memang orang yang hebat.
“Maksud aku bukan disitu, Bhan.” Jefri memecah hening diantara
mereka. Jefri mematikan rokoknya. “Rasulullah juga berdiri saat orang Yahudi
membawa jenazah orangnya. Apalah salahnya jika kita ikut berduka dengan
wafatnya manusia?” Jefri menggenggam tangannya erat-erat. “Ini bukan masalah
Islam atau bukan, siapapun pelakunya, tindakan terorisme tetap tidak bisa
dibenarkan. Tindakan yang diduga dilakukan ISIS ini pasti akan dibalas oleh
Prancis. Dan korban akan semakin banyak berjatuhan. Manusia, tidak seharusnya
saling membunuh kemudian berdiri diatas mayat orang yang bunuhnya. Itu bukanlah
ajaran agama. Agama manapun tak mungkin mengajarkan hal itu.”
“Iya aku ngerti, Jef. Sudahlah, tak ada gunanya kita membahas hal
itu. Kita tak punya kuasa apa-apa untuk mencegahnya.” Gantian Subhan yang
menenangkan Jefri.
“Iya. Tapi ada yang harus diingat, kita tidak bisa serta merta
mengatakan sesuatu hanya berdasarkan emosi yang kita rasakan. Kita tetap harus
jeli dalam mencari informasi. Tidak mungkin semua media itu adalah penipu. Sedikit
atau banyak, tetap saja pasti ada yang jujur. Kita harus mencernanya dengan
baik. Mencari informasi yang benar dari sumbernya langsung.”
Dengan begini, kini mereka turut berduka dengan apa yang terjadi di
Paris. Bukan berduka untuk paris itu sendiri. Tapi, untuk orang-orang yang
kehilangan orang-orang yang kehilangan kekasihnya. Tidak hanya di paris, bahkan
dibelahan manapun, jika ada tragedi seperti ini, dan mereka mendapatkan
informasi itu, tetap saja mereka akan berduka. Berduka karena rasa kemanusiaan.
Bukan karena simpati terhadap negaranya.
Mari Berbagi Cerita