Tinta
Emas
Kukayuh sepedaku
membelah air yang menggenang di jalan di salah satu gerbang kecil di kampusku.
Kuhirup udara pagi sambil terus mengayuh sepedaku. Sesekali kutolehkan
pandanganku menikmati hijaunya dedaunan pohon yang berdiri di pinggiran jalan
yang membentang di depan “Sir Syed House” itu, walaupun tak serindang dan
sehijau dedaunan di negeriku tapi pemandangan itu tetap terlihat indah.
Kuparkirkan sepedaku di
parkiran yang terletak di sisi kanan jalan masuk menuju gedung “Art Faculty”,
lalu bergegas menuju ruang 12 di lantai 2, yang tak lain adalah kelas economic-ku.
Sesampainya di depan kelas, kulihat dosen sedang merapikan mejanya. Ia
mengambil salah satu buku absen dari tumpukan buku absen yang dibawanya. Tepat
sebelum ia membuka absen, aku langsung mengetuk pintu.
“May I come in sir?”
Tanpa menjawab ia
menoleh dan memberi isyarat dengan goyangan kepala khas india yang seperti
menggeleng itu dan itu artinya “yes”.
Sembari melanjutkan absennya akupun langsung bergegas mengambil tempat duduk.
Disudut kiri belakang kelas.
Inilah aku. Namaku Aru.
Aku adalah seorang mahasiswa jurusan economic
tahun pertama di Aligarh Muslim University. Salah satu universitas yang
terletak di negeri Gandhi, India. Tepatnya di Negara bagian Uttar Pradesh.
Sebuah anugerah bagiku bisa kuliah di universitas ini, karena aku yakin belajar
dsini akan menjadi batu loncatan untuk menggapai impian yang kutuliskan dengan
tinta berkilau dan meninggalkan masa laluku yang kutuliskan dengan tinta hitam
yang kelam di lembaran buku khusus itu.
Peristiwa itu terjadi
skitar 5 tahun yang lalu, waktu itu aku masih menduduki kursi kelas 3 smp
semester akhir. Aku berasal dari keluarga yang terpandang di daerahku,
orang-orang di sekitar daerahku mengenal ayahku sebagai pengusaha kebun sawit.
Kebunnya yang luas membuat namanya terdengar sampai kepelosok daerah. Sedangkan
ibuku membuka sebuah toko boutique yang terletak tak jauh dari rumah
kami. Itu semua cukup membuat kami hidup seperti di istana. Tapi, benar juga
apa kata orang. Bahwa “tiada yang pasti di dunia ini, yang pasti adalah ketidak
pastian itu sendiri” dan itu benar-benar terjadi di keluargaku
Hari ini aku pergi ke sekolah
seperti biasanya. Tapi, ada yang aneh hari ini. Aku pergi tanpa sarapan
dirumah. Mama hanya memberikan uang saku untuk aku sarapan di kantin sekolah. Tiba-tiba
saja suasana rumah menjadi tidak rukun keadaan ini sudah berlangsung sejak
beberapa hari yang lalu. Aku bingung. Aku enggan menanyakan kepada ayah. Takut
ia marah. Ketika mama memberikan uang saku kepadaku, kucoba bertanya. Tapi,
beliau juga enggan memberi jawaban yang memuaskanku. Mama hanya menjawab seakan
tak ada masalah.
Hari terus berlalu,
minggu demi minggu, hingga bulan pun bergati bulan. Sampai tibalah hari
wisudaku dimana aku akan menerima ijazah SMP ku. Pagi ini aku mengenakan kemeja
putih berlengan panjang dengan dasi di kerah kemeja putih itu, dilapisi jas
hitam, serta celana katun yang sama hitamnya dengan jas yang kupakai, keren.
Layaknya seorang manager. Aku diantar langsung oleh ayah dan mama ke sekolah,
kuperhatikan ayah dan mama tak saling bicara,di sepanjang perjalanan. Tak ada
satu patah katapun yang keluar dari mulut mereka. Keheningan pun menyertai
perjalanan kami ke sekolah. Aku bingung mengapa mereka mau mengantarkanku,
padahal biasanya supirlah yang mengantarkanku ke sekolah. Jangankan mengantar,
sarapan bersama saja mereka enggan. Tapi, kali ini kami berada di satu mobil. Seperti
kami duduk mengitari meja makan dulu, ketika keadaan keluargaku masih rukun. Apakah
mereka berusaha menyembunyikan ketidak-harmonisan yang terjadi diantara mereka?
Padahal semuanya terlihat begitu jelas.
Sesampainya di tempat
wisudaku, ayah dan ibu mengambil tempat duduk bersebelahan sementara aku duduk
disamping kiri ayah.
Namaku dipanggil, aku berjalan melalui karpet merah yang di bentangkan di jalan
yang membelah susunan kursi. Menghampiri kepala sekolah yang berdiri mengenakan
toga. Ia mengalungkan sebuah mendali ke leherku dan memberikanku sebuah map
berwarna biru tua yang ditempa khusus. Di sampul depannya terukir gambar icon
sekolahku. Aku menyalam dan menempelkan punggung tangannya ke dahiku, lalu kembali
ketempat duduk dan menunjukkan ijazahku kepada ayah dan ibu. Aku tersenyum
karena aku lulus dengan nilai yang cukup bagus. Kulihat mereka berdua tersenyum
tapi, tak begitu cerah. Aku berusaha tersenyum ditengah kebingunganku.
Beberapa hari setelah kelulusanku, ayah membawaku ke sebuah tempat yang cukup
jauh dari rumah. Terlihat bangunan berlantai 2. Bangunan ini memanjang ke
belakang, bangunan ini dikelilingi tanaman yang ditata rapi. Juga tidak
ketinggalan taman yang cukup luas. Yang di pagari dengan tanaman yang sama. Dan
ada juga pagar kayu bercat putih yang berdiri kokoh di belakang tanaman itu. Di
bagian depan taman taman ada sebuan gerbang kecil. Dihiasi tanaman diatas
pot-pot kecil yang menempel di gerbang itu. Di dalamnya terdapat berbagai
fasilitas bermain bagi anak-anak. Terdapat dua bangku memanjang yang
membelakangi rumah di masing-masing sisi kiri dan kanan taman. Di belakangnya terdapat
pamphlet putih bertuliskan Panti Asuhan dengan warna hijau tua.
Ayah membawaku ke salah
satu ruangan di bagian paling depan bangunan itu, tertulis “administrasi” di
sebuah papan kecil yang menggantung di daun pintu ruangan tersebut, aku duduk
di sebuah kursi, kulihat ayah sedang bercakap-cakap dengan dengan seorang
wanita paruh baya yang duduk dseberang meja tempat ia duduk. Selang beberapa
waktu ayah beranjak dari tempat duduknya. Ayah menitipkan aku kepada seorang
perempuan muda yang merupakan salah satu suster pengasuh di panti asuhan
tersebut. Namanya bu Irine. Kutaksir umurnya sekitar 29 tahun. Tingginya sebahu
ayah, ia mengenakan pakaian yang tertutup, suaranya rendah dan lembut dan
wajahnya teduh dengan jilbab yang ia
pakai dan kemudian bu Irine membawaku ke sebuah kamar dimana aku akan tidur.
Hari menjelang sore,
ayah tampaknya akan beranjak meninggalkan panti asuhan, aku tak tahu apa maksud
ayah menitipkanku di sini satu hal yang aku ingat adalah ayah berpesan akan datang
lagi besok untuk membawaku pulang. aku menurut saja karena sampai saat itu aku
masih percaya pada ayah.
Pagi hari keesokan
harinya aku duduk di bangku panjang yang terletak di taman bermain. Anak-anak
bermain dengan riangnya di taman itu. Suara tawa anak-anak yang ceria, dedaunan
pohon yang hijau, udara pagi yang segar serta sinar mentari yang mengintip dari
balik dedaunan, membuatku ikut tersenyum ceria.
Lambat laun taman mulai
sunyi, satu persatu anak-anak yang tadinya bermain kembali ke kamar
masing-masing, aku tak menghiraukan dan tetap menuggu ayah di taman. Matahari
semakin condong ke barat, aku belum juga melihat sosok ayah dating. aku
tertunduk lesu, senyumpun tak lagi terbit dari bibirku. Hatiku dipenuhi rasa
kesal dan kecewa hingga aku enggan beranjak dari tempat aku duduk walaupun
sinar matahari telah berganti sinar rembulan.
Bu Irine keluar dari
bangunan di belakangku. menghampiriku yang sedang menangis di bangku taman, ia
duduk si sebelah kananku.
“Kenapa terus
menangis?” Tanya Bu Irine sambil memengang pundak kiriku.
“ Ayah bohong! Ayah gak
datang, padahal ayah janji mau menjemputku hari ini.” Kataku dengan nada yang
terisak-isak.
“Hmmmph. Mungkin ayah
kamu sibuk hari ini, jadi gak bisa datang. Pokoknya kamu jangan nangis
terus, ya..” Bujuk Bu Irine.
Titik-titik air mata mulai berhenti mengalir di pipiku ketika Bu Irine terus
membujukku.
“Nah, gitu donk. Sekarang
kita masuk yuk, dah malam nih ntar kamu malah masuk angin lagi. Memang
kamu mau masuk angin?” ajak Bu Irine
dengan lembut.
Aku mengangguk sambil
mengusap sisa butiran air mata yang tersisa. Dan beranjak menuju kamar.
Setiap hari aku duduk
di bangku yang sama, menunggu kedatangan ayah yang akan mambawaku pulang dari
panti asuhan ini. Walaupun pagi akan berganti sore dan pada akhirnya ayah tetap
tidak datang, tapi aku masih tetap menunggu. Bu Irine selalu berkata kalau ayah
mungkin sedang sibuk, Tapi aku mulai ragu. Aku bukan tak percaya pada kata-kata
Bu Irine, tapi aku ragu, kalau ayah akan benar-benar datang menjemputku.
Hari-hari berlalu. aku
masih tetap menuggu dan ayah tetap tak kunjung muncul. Hal inilah yang
membuatku beripikir kalau ia benar-benar ingin meninggalkan aku dsini
selamanya, dengan kata lain Ayah membuangku!
Hari ini adalah hari
ketujuh, genap satu minggu umurku di Panti Asuhan. Aku tak lagi duduk di bangku
taman seperti hari-hari sebelumnya, aku berbaring di atas ranjang terus
memandangi langit-langit sepanjang hari. Aku membayangkan kalau aku sedang
menonton sebuah drama di permukaan langit-langit kamarku itu. Sebuah drama yang
terlahir dari imajinasiku sendiri.
Malam semakin larut.
Tiba saat yang tepat untuk melaksanakan rencana yang sudah kutonton seharian di
langit-langit kamar seharian tadi. Dan tak lama kemudian aku sudah berada di
luar Panti Asuhan. Tak butuh waktu yang lama serta usaha yang keras untuk
keluar dari tempat ini, karena tempat ini dbuat untuk mengasuh anak-anak yatim.
Bukan rumah tahanan yang dibuat untuk menahan para Kriminal.
Kabur adalah pilihan
yang sulit bagiku, tapi menjalani sisa hidup di tempat seperti ini juga bukan
pilihan yang baik menurutku, karena dalam kondisi seperti ini, aku tak bisa
mempercayakan masa depanku kepada tempat ini. Entah kenapa aku bisa berpikir begitu.Tapi
yang jelas, kalau aku berhasil membangun masa depanku, itu karena pilihanku
sendiri dan kalaupun aku gagal, aku akan terus berusaha membangun kembali
instanaku yang telah hilang.
Aku bingung harus
menuju kemana di daerah yang tak ku kenal ini. Itu wajar saja aku tak
tahu-menahu tentang daerah di sekitar sini karena aku adalah anak rumahan.
Bisa saja aku menunggu pagi dan mencari angkutan umun yang melewati rumahku,
tapi melihat sikap ayah yang seperti itu aku tak yakin rumah merupakan tujuan
yang tepat.
Ditengah dinginnya
malam yang semakin menusuk, Kulangkahkan kakiku. Langkah inilah yang akan
menjadi sejarah dalam hidupku, karena langkah ini adalah pilihan yang akan
menggoreskan tinta hitam dan tinta berkilau kehidupan dalam catatan
kehidupanku.
Berhari-hari aku
terkatung-katung di jalanan, inilah saat-saat dimana aku melangkah tanpa tujuan
pasti, mengikuti arah angin yang tak tahu kemena akan berujung, saat dimana aku
harus rela kelaparan karena aku membatasi makan agar uang yang tersisa di saku
cukup untuk makan esok. Saat-saat paling kritis seumur hidupku, walaupun ini
hanya berlangsung beberapa hari, tapi bagi anak dengan latar belakang seorang
putra tunggal dari juragan kebun sawit tentu hal ini sangat menyiksaku. Kendati
demikian, aku beruntung karena hidup ternyata enggan menyiksaku lebih lama.
Udara semakin dingin
menusuk hingga ketulang keringku. kutelusuri jalanan ditengah malam yang
semakin larut. Kulihat sebuah warung tanpa penerangan sedikitpun di tepi jalan
itu. Sepertinya ini adalah warung yang buka sehari-hari di tempat ini, pikirku.
Malam semakin larut, berkeliaran di tengah malam bukanlah ide yang baik, istirahat
di warung ini mungkin pilihan terbaik untuk saat ini.
Oo0oO
“Hei, hei. Bangun!”
terdengar suara samar-samar.
Aku tak menghiraukan suara lelaki itu.
“Hei dek. Bangun!. Abang mau buka warung dulu” kata lelaki itu sambil
mengguncang-guncang badanku. Aku tersentak dan langsung duduk.
“Waduh sori. Sori bang, ketiduran” kataku tergagu-gagu.
Ia hanya diam dan terus melanjutkan pekerjaannya.
Tak berapa lama
kemudian lelaki itu siap untuk membuka warungnya.
“Bang. minta daftar menunya” kataku dengan suara serak karena baru bangun
tidur.
“Daftar menu apaan dek?, kayak di restoran aja. Di sini ga ada daftar menu.”
“Loh. Terus kalau mau order gimana bang?.”
“Pertama. Adek berdiri dari bangku, Kedua. Mendekat kesini. Ketiga. lihat lauk
yang ada, Kemudian Tinggal bilang aja, adek mau lauk apa. Gampang kan?”
Aku melihat-lihat menu
yang ada di warungnya. Sesekali aku menanyakan beberapa lauk yang telihat asing
bagiku. Itu wajar saja karena selama ini aku selalu makan di rumah, kalaupun di
luar itupun di restaurant. Bukan di
warung seperti ini.
Kupilih salah satu menu
yang kukenal. Ayam goreng. Ya, itu dia. Ayam goreng, menu yang dikenal oleh
semua kalangan. Lalu duduk di tempatku semula.
“Bang. ada air ga?”
“Tuh cuci muka di situ. Pakai aja air untuk cuci piring itu.” jawabnya sambil
menunjuk ke arah dua buah ember berisikan air di sisi kiri warungnya.
Loh. Kok dia bisa tahu kalau aku mau cuci muka. Pikirku heran.
“Waduh bang masa saya harus cuci muka pakai air bekas cuci piring.” Protesku.
Iapun menjawab dengan santai.
“perhatikan dulu kalimatnya dek. Air untuk cuci piring, bukan air bekas cuci
piring. Itu artinya airnya belum dipakai sama sekali.”
Sekali lagi aku heran. Sejak kapan ada tukang warung yang mengerti kaidah
bahasa seperti ini. Sebenarnya abang ini pedagang atau guru bahasa
Indonesia? Tanyaku dalam hati.
Aku jongkok di samping
ember itu.kuperhatikan raut mukaku di permukaan air bening di ember itu.
sekilas aku seperti drama seorang anak yang tertawa ceria di permukaannya,
seakan air itu memutar balik video masa laluku yang ceria. Tiba-tiba suara
tukang warung membuyarkan imajinasiku.
“Dek. Ngapain? Kok cuci muka lamanya
setengah jam.”
“Eh. Iya, iya bang.”
kulihat sekali lagi ke permukaan air, dan yang ada hanyalah wajah seorang bocah
ingusan yang lusuh. Haahh. Aku menghela nafas. Itu hanyalah masa lalu.
Pikirku.
Kusantap sarapan yang
sudah ada di meja. Ketika mentari semakin terik, kuperhatikan jalanan semaking
ramai di lalui orang. Satu persatu penarik ojek memarkirkan motornya di tepi
jalan. Salah seorang pengojek menghampiri ember berisikan air yang tadinya
kugunakan untuk cuci muka, seperti yang kutebak ia juga melakukan hal yang sama
seperti yang kulakukan tadi. Aku tak peduli dan terus melanjutkan sarapanku.
Tak lama kemudian datang seorang lagi dan disusul seorang lagi yang melakukan
hal yang sama. Aku mulai heran, dan tak lama setelah pengojek yang terakhir
cuci muka pergi, aku bertanya ke pemilik warung.
“Bang. Sebenarnya yang
di ember itu air untuk cuci piring atau cuci muka sih?” Tanyaku dengan suara
pelan karena takut terdengar oleh penarik ojek yang cuci muka tadi.
“Dua-duanya dek. Ahaha.” Jawabnya sambil tertawa enteng.
“Biasalah. Tiap harinya ada aja penarik ojek yang belum kayak kamu ini. Hehe”
lanjutnya masih tertawa.
Huh, sial. Abang ini mulai mengolok-olokku. Gerutuku dalam hati. Pantas saja
dia tahu kalau aku mau cuci muka tadi, pikirku.
Kuteguk segelas air
menutup sarapan pagi itu. orang-orang silih berganti diduk di sampingku untuk
sarapan, tetapi aku hanya terpaku diam tak menghiraukan mereka. Di saat warung
mulai sunyi. Aku bertanya ke pemilik warung.
“Bang. Abang butuh karyawan ga?.” Tanyaku spotan. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba
bisa bertanya hal demikian.
“Hah, karyawan. Untuk apa?”
“Ya…, mungkin aku bsa bantu abang buka warung.”
“Memang kamu bisa kerja apa?.”
“Apa ajalah yang menurut abang cocok.”
“Kayaknya gak ada kerjaan yang cocok buat kamu dsini. hehe” jawabnya
menertawakanku.
Ahh. Kesal juga aku di buatnya. Tapi apa boleh buat, kan dia yang punya warung.
Hari semakin terang, matahari
mulai condong ke ufuk barat. Kulihat pemilik warung sibuk melayani pengunjung
di saat jam makan siang tiba. Tak herang jika ia kerepotan, sebab ia
mengerjakan semuanya sendirian, mulai dari mencuci piring sampai menghidangkan
makanan. Ketika ia mulai kewalahan, akhirnya.
“Hey, kamu.”
Aku menoleh kearahnya.
“iya kamu. Jangan diam aja, cepat bantu sini.”
Hehe. Akhirnya dia kapok juga.
“Mana yang perlu di kerjakan bang?.”
“Kumpulin piring kotor, terus cuci. Oke.”
“Siip bang” jawabku dengan mantap.
aku langsung melaksanakan perintahnya tadi. Awalnya terasa sulit mencuci piring
karena aku tidak terbiasa memegang piring licin bersabun yang biasanya di
pegang oleh pembantu di rumahku dulu, tapi perlahan aku mulai terbiasa walupun
masih belum lihai. Mulai saat itu aku bekerja sebagai asisten direktur di
warungnya. Wajar saja aku langsung diangkat menjadi asisten direktur karena ia
memang tak memiliki karyawan selain aku di warungnya.
Itu adalah hari pertama
dan pekerjaan pertama yang kujalani, itu adalah hari dimana aku mulai
menumbuhkan kemandirian di dalam jiwaku. Karena garis hidup telah dituliskan,
dan takdir akhirnya menyadarkanku. Dengan kondisiku saat itu, menjadi mandiri
adalah harga mati.
Matahari semakin
condong ke barat. Sambil bercakap-cakap kami merapikan warung untuk segera
ditutup. Dari percakapan itu aku tahu nama abang itu adalah Hafez, katanya aku
bisa memanggilnya bang Fezzo. sejak saat itu ia mengganti kata ‘dek’ ketika
memanggilku dengan ‘Aru’. Ya. itu adalah namaku. Dari situ ia juga tahu kalau
aku kabur setelah ayah meninggalkanku dipanti asuhan.
Bang Fezzo sudah siap
diatas astreanya ketika sinar keemasan matahari sore menyinari tempat itu, di
saat ia hendak berangkat pulang.
“Aru. Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di rumah abang “
Aku terpaku sejenak,
perlahan senyum kecil mulai terbit dari bibirku.
“Terima kasih banyak bang” kataku tak tahu harus menjawab apa lagi.
Hampir setengah tahun
sudah aku bekerja di warung bang Hafez, hidupku mulai tercukupi, rasanya aku
seperti di beri kehidupan yang kedua kalinya. Aku mengikuti tes masuk SMA
dengan ijazah yang ku ambil diam-diam dari rumah ketika tahun ajaran baru
dibuka, dengan kemampuan otak yang hampir tak pernah diasah selama hampir satu
tahun, aku lulus dengan nilai pas-pasan, hingga akhirnya aku ditempatkan di
kelas satu-empat, kelas yang katanya berisi berandal dan anak-anak yang memiliki
nilai akademis yang rendah. Tapi apapun itu, itu bukanlah hal penting untuk
dipikirkan sekarang.
Aku telah menduduki
bangku kelas tiga SMA, aku mulai berpikir ke universitas mana aku akan
melanjutkan studyku. Satu-persatu kubaca profil universitas-universitas yang ada di Nusantara melalui internet,
banyak universitas bagus seperti Universitas Indonesia (UI), Universitas Gajah
Mada (UGM) yang ada di pulau Jawa, sementra di kampung halamanku ada
Universitas Sumatera Utara (USU), dan banyak yang lainnya, hingga aku bingung
harus memilih yang mana yang sesuai dengan minat dan bakatku. Sekian lama aku
mencari akhirnya aku menemukan universitas yang cocok untukku tapi bukan di
internet melainkan di kelas.
Pak Bashrun. Guru
bahasa Inggrisku menerangkan mata pelajarannya, namun baru ia menyelesainkan
sedikit topik dari materi pelajarannya, diletakkannya board marker di atas
mejanya, lalu berdiri di tengah kelas membelakangi papan tulis.
Sejenak ia berdiam diri,
barulah ia mulai bicara.
“Anak-anak didikku yang kusayangi, sekarang kalian sudah menduduki bangku kelas
tiga SMA, mulai saat ini dan mulai detik ini, sudah sewajarnya kalian
memikirkan pelabuhan mana yang akan menjadi tujuan kalian kalian selanjutnya
agar kalian bisa sampai ke sebuah pelabuhan masa depan yang di namakan sukses.”
Ujarnya.
Ia mulai mengenalkan profil dari
berbagai universitas dan jurusan yang ada di berbagai daerah di Nusantara,
sesekali murid-murid bertanya hingga akhirnya giliranku yang mengangkat tangan.
“Pak. Universitas apa yang cocok dengan ekonomi dan english?”
Pak Bashrun menundukkan kepalanya, sambil melipat tangan kirinya ke belakang
dan memijat-mijat dagunya pelan layaknya orang yang tengah berpikir.
Pandangnnya menyapu semua murid yang ada di kelas itu dan berakhir dengan
pandangan yang tertuju ke arahku. Beliau memulai dengan cerita tentang seorang
mantan dosennya ketika ia masih menjadi mahasiswa di PBI dulu. Dilanjutkan
dengan profil sebuah universitas yang terletak di luar negeri, di mana mantan
dosen beliau pernah belajar. Aku sangat tertarik pada setiap kata-kata yang
yang keluar dari mulut beliau tentang universitas itu. Kupikir inilah uversitas
yang kucari cari selama ini. Kurobek selembar kertas dari buku tulisku.
Kutuliskan beberapa penggal kata, dan kuresapi setiap goresan tinta yang ada di
lembaran kertas itu ke lubuk hatiku. Ya, pelabuhan yang akan menjadi tempat
persinggahan kapalku selanjutnya adalah, ALIGARH MUSLIM UNIVERSITY (AMU)-INDIA.
Ujian Nasional hanya
tinggal beberapa bulan lagi, mulai kupersiapkan diri untuk mengahadapi UN juga
untuk menghadapi tes masuk ke AMU melalui jalur beasiswa. Sejauh itu semuanya
berjalan dengan baik, aku bisa fokus belajar walaupun paginya aku harus kerja
sambilan di warungnya bang Hafez. Persiapanku pun sudah semakin mantap untuk
menghadapi UN dan tes beasiswa. Tapi disaat kupikir, roda kehidupan akan berjalan dengan mulus,
ternyata sebuah batu besar menghadang lajunya rodaku, sebuah batu yang hampir
mengubur impian yang baru ingin kubangun.
Pagi itu seorang utusan
dari pemda setempat dan beberapa polisi tengah berdiri di depan warung, ketika
kami sampai, mereka langsung menyuruh kami untuk mengangkut seluruh barang
yang ada di warung, awalnya bang Hafez
enggan, karena jika warung itu digusur maka keluarga serta anak dan istri bang
Hafez akan terancam begitu juga dengan pendidikanku, tapi mereka mengancam akan
menggusur paksa warung jika kami tak menurut, dan kami tak punya pilihan lain.
Malam harinya bang
Hafez duduk diatas kursi yang ada di ruang tamunya, ia tertunduk lesu sambil
sesekali memijat dahinya. Aku yang berdiri di pintu kamarku hanya bisa terpaku
melihat itu. tak lama kemudian istrinya keluar dari dapur membawa segelas teh
untuknya lalu duduk di kursi yang ada di sebelah bang Hafez. Istrinya memijat
bahu bang Hafez dan terus menyemangatinya. Haah, keluarga yang indah. Ujarku dalam
hati. Lalu masuk kekamar.
Keesokan harinya kubeli
sebuah gitar dengan uang hasil menabung selama bekerja di warung bang Hafez.
Kuputuskan menjadi seorang pengamen karena mencari pekerjaan bukanlah hal yang
mudah terutama bagi anak yang masih duduk di bangku SMA sepertiku ini. Tapi
walaupun gitar sudah ditangan aku belum bisa menghasilkan uang karena aku tidak
terlalu mahir bermain gitar. Yang kuingat hanyalah sisa-sisa pelajaran tentang
gitar yang kudapatkan di kelas musik dulu.
kutendang batu kerikil yang
ada di tepi jalan itu, sambil terus menyusuri jalan kearah mata hari yang
semakin condong ke barat. Kendaraan menumpuk di hadapan lampu merah, kulihat
seorang lelaki muda mengenakan kaus hitam sedang memainkan gitarnya di hadapan
salah satu kaca mobil yang tertutup rapat. Lampu hijau telah menyala, mobil
itupun beranjak tanpa meninggalkan serecehpun untuk lelaki berkaos hitam itu,
dengan muka yang lusuh, ia pergi meninggalkan jalan itu.
Lelaki berkaos hitam
itu berjalan dengan wajah tertunduk kearahku, saat ia hampir melewati ku, aku
menghadang jalannya, ia menghentikan langkahnya dengan wajah yang masih
tertunduk, tanpa sepatah katapun, aku memasukkan selembar uang sepuluh ribu
rupiah dari sisa uang tabunganku ke dalam plastik kemasan permen yang biasa
digunakan pengamen untuk menampung receh-receh yang disangkutkan di ujung
gitarnya. Ia melihat ke dalam kemasan permen itu lalu menatapku heran.
“Ku lihat waktu abang bermain gitar di sana tadi, kayaknya abang cukup mahir
memainkan gitar. Bisa ga aku belajar main gitar dari abang?.” Kataku sambil
menatap ke wajah lelaki berkaos hitam itu.
Ia hanya diam, lalu menghela nafas dan melanjutkan langkah kakinya. Aku hanya
bisa melihat lelaki berkaos hitam itu pergi dengan rasa kecewa di dalam hatiku,
namun baru beberapa langkah ia berjalan.
“Yok, ikut aku.” Kata lelaki berkaos hitam itu dengan sedikit berteriak.
Perjalanku dengan lelaki berkaos hitam akhirnya dimulai. Setiap hari aku selalu
ikut dengannya, satu persatu ingatanku di kelas musik dulu mulai bangkit kembali
ketika lelaki berkaos hitam itu mengajariku bermain gitar. Aku banyak
menghabiskan waktu ngamen bersamanya pagi sebelum sekolah, begitu juga setelah
pulang sekolah hingga malam hari.
Hari-hari sudah
memasuki bulan tua, aku harus membayar uang sekolah untuk bulan depan,
sementara uang dari hasil ngamen hanya cukup untuk makan, kalaupun bersisa itu
hanya sedikit. Sepulang sekolah sore itu aku ngamen sendiri tanpa ditemani si
lelaki berkaos hitam, mungkin karena faktor pikiran yang berbelit-belit makanya
aku memilih untuk menyendiri waktu itu. Lampu merah menyala, saatnya untuk
beraksi. Kumainkan gitarku disebelah mobil kijang innova berwarna hitam,
samar-samar bisa kulihat seorang lelaki berkacamata yang tidak terlalu tua
mengenakan kemeja putih lengan panjang berliris hitam dari balik kaca film
mobilnya, aku menyanyikan lagu ‘keramat’ karya sang raja dangdut Rhoma Irama.
Jreng, jreng. Mulai kupetik tali gitarku, tapi baru sebentar aku menyanyikan
lagu sang raja dangdut, tiba-tiba pemilik mobil menurunkan kaca mobilnya.
“Nak, coba masuk ke mobil saya.” Ujarnya pemilik mobil itu padaku.
“Hah, mau ngapain pak?.” Tanyaku heran.
“Sudah masuk aja dulu, keburu lampu hijau nanti.”
Tanpa pikir panjang akupun langsung masuk ke mobil lewat pintu tengah.
Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya selama di perjalanan, aku penasaran
ada perlu apa orang sepertinya dengan diriku?, kalau kuperhatikan aku seperti
mengenal wajahnya, tapi siapa?.
Sesampainya di kediaman lelaki berkemeja putih itu, aku dijamu layaknya seorang
tamu bukan sebagai pengamen jalanan. Dari situlah aku mulai yakin kalau kami
benar-benar saling kenal, walaupun itu masih sebatas tebakan dari hatiku saja.
Ia duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa yang kududuki, seperti
percakapan yang biasa terjadi, percakapan kamipun dimulai dengan sebuah
perkenalan. Cerita demi cerita akhirnya ia member tahu identitas dirinya,
ternyata ia adalah adik kandung dari ayahku. Ia adalah pamanku sendiri. Cerita
tak usai sampai disitu, ia juga menceritakan tentang kedua orang tuaku, ayah
dan ibu berpisah tak lama setelah ayah meninggalkanku dipanti asuhan. Ayah
tetap tinggal di rumah dan meneruskan usaha kebun sawitnya, sementara ibu
tinggal di ruko tempat ia menjalankan usaha boutiquenya. Paman menyarankan agar
aku menetap di rumahnya tak mencoba mnginjakkan kaki lagi dirumah ayahku, itu
sama seperti yang pernah aku pikirkan ketika kabur dari panti asuhan. Aku hanya
ingin hidup tenteram walapun di rumah
yang sederhana tapi hasil dari usahaku sendiri hingga tak akan ada yang
mengusirku dari pada di istana sementara keberadaanku tak diinginkan di
dalamnya.
Setiap usai sekolah aku tak lagi pulang ke rumah bang Hafez, karena sekarang
aku tinggal di rumah pamanku, mengamenpun sudah tak menjadi kewajiban bagiku
karena biaya sekolah dan giziku sehari-hari sudah terpenuhi, walaupun terkadang aku masih mengamen skedar untuk
menghilangkan kejenuhanku. Entah kenapa aku begitu menikmati setiap petikan
gitar dan lagu yang kunyanyikan saat mengamen sekedar untuk menghibur
orang-orang yang lewat. Uang yang terkumpul dari hasil ngamen ku berikan pada
bang Hafez, karena bagaimanapun ia pernah menjadi sesosok malaikat tanpa sayap
yang mengeluarkanku dari kegelapan, sampai akhirnya bang Hafez mendapatkan
tempat baru untuk membuka warungnya kembali.
Ujian Nasional baru
saja usai. Akhirnya aku menerima ijazah SMA-ku walaupun melalui perjuangn melewati
banyak lobang dan jurang yang hampir saja membenamkan impianku. Kuteruskan
usahaku mencari sisa informasi tentang beasiswa ke pelabuhanku yang
selanjutnya, yang sebelumnya pernah terputus karena hidup tak memberikan
pilihan dan aku harus ngamen waktu itu.
Informasi yang
kukumpulkan sepertinya sudah cukup. Aku mengikuti tes beasiswa yang di sediakan
oleh sebuah lembaga kebudayaan yang ada di india melalui konsulat jendral yang
ada di kota Medan setelah menyerahkan seluruh berkas yang di sayaratkan
sebelumnya. Satu persatu tes kulalui begitu juga dengan interview dan akhirnya
tiba saat menunggu pengumuman kelulusan via-telefon.
Kumatikan lampu
kamarku, aku duduk di kursi meja belajar yang ada di kamarku ditemani cahaya
rembulan yang menembus dari kaca jendela memberi penerangan pada kamarku yang gelap gulita. Di bawan
cahaya lampu belajar, kutuliskan kisahku ini di atas lembaran sebuah buku
khusus dengan tinta hitam tebal hingga lembaran yang tadinya berwarna putih manjadi
kelam, sekelam kisah yang kutuliskan di atasnya. Di penghujung cerita, kututup
pena hitam tebal itu lalu kuambil sebuah pena bertinta cerah, kutuliskan
harapan dan doa-doaku dengan tinta cerah itu di lembaran selanjutnya, hingga
lembaran-lembaran itu bertambah cerah. sengaja kupilih tinta ini, berharap masa
depan yang kutulsiskan di dalam doaku di buku itu menjadi cerah secerah tinta yang
kugoreskan untuk menulisnya. Orang-orang menyebut tinta itu dengan Tinta Emas.
Kluk! Kututup pena itu,
kupandangi setiap gores tinta emas di lembaran buku khusus itu, sekilas aku
melihat goresan tinta-tinta itu bersinar, semakin kuperhatikan sinarnya semakin
jelas dan semakin berkilau. Tiba-tiba sekelilingku menjadi terang, aku berdiri
terkejut. Aku bingung apa yang tengah terjadi di sekelilingku. Sejauh aku
memandang hanya ada ruang hampa yang dipenuhi kilau keemasan. Perlahan di
depanku muncul sebuah pintu yang juga berwarna emas. Pintu itu terbentuk dari ujung
bawah hingga kesisi bagian atasnya. Kulangkahkan kakiku kepintu itu pelan-pelan
seperti orang yang sedang ragu-ragu, saat kubuka pintu emas itu, sedikit demi
sedikit kilauan cahaya putih menyilaukan menyeruak dari baliknya, ku halangi
pandanganku menahan kilauan cahaya putih itu sambil melangkahkan kakiku
memasuki pintu emas. Tapi baru melangkah satu kaki ke dalam tiba-tiba aku
mendengar suara yang sepertinya kukenal.
“hey!. why are you
smiling, what are you thinking about?”
Oow, ternyata suara itu
adalah suara dosen economicku, suaranya menyadarkanku dari lamunan yang serba
keemasan itu. Kulihat ia menatap tajam kearahku. Aku gugup.
“No, nothing sir”
jawabku terbata-bata.
“You should pay
attention to my topic, okay!” katanya memberiku peringatan.
Dalam hatiku aku
tertawa kecil, hhe. Siapa yang tak heran melihat seorang murid senyam-senyum
sendiri di tengah pelajaran. Mungkin semua orang akan bertanya ‘kenapa?’ di
dalam hati mereka, aku sendiri kurang tahu pasti kenapa aku bisa seperti ini. Tapi
satu hal yang aku ketahui, aku bahagia, karena aku yakin mulai dari sini
perjalananku akan dituliskan dengan Tinta Emas!
Download cerpen ini di sini